|Wednesday, April 25, 2018

Penyakit Jantung Makin Jantungan, Program BPJS Proyek Gagal? 

jakarta-127-1

BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial) Kesehatan teryata belum mampu menjamin kesehatan masyarakat dan memberi pelayanan yang nyaman dan tertib,pasien peserta BPJS untuk mendapat kartu  antrian berobat bisa ber hari – hari,setelah dapat nomor antrian di ruang tunggu untuk panggilan no antrian berobat bisa sampai 6 jam lamanya, kalo no yg dipengang pasien no antrian kecil bisa lebih awal,namun itu pun tidak menjamin bisa berobat karena dokter atau loket penyakit yg dituju mungkin sudah full pasien.(semisal jantung atau syaraf) sehingga pasien yg sudah dapat nomor antrian  terpaksa kembali ambil nomor antrian untuk esok hari,terkait nomor antrian. jakarta-127

Ada dugaan bahwa petugas juga ikut bermain dengan pasien tertentu untuk dapat nomor antrian kecil,begitu dituturkan pasien di RS Islam Pondok kopi,disisi lain pelayana petugas BPJS sangat tidak ramah dan merasa pasien yang berobat dengan kartu BPJS adalah beban ,seorang pasien,SS,50 tahun yang membawa surat rujukan dari Puskesmas Bintara Jaya (berbatasan dengan RS Pondok Kopi) saat surat rujukan diberikan ke petugas.

Dengan lantang petugas mengatakan “ Hanya sekali ini bisa diterima berobat di RS ini… bulan depan tidak boleh lagi”  tanpa menjelaskan apa dasar dan alasan tidak boleh berobat,lantas pasien berkata “Bulan depan saya ngak sakit lagi “ sekarang saya butuh pakai BPJS kata salah seorang pasien di sela-sela hiruk pikuk nya situasi antrian pasien BPJS pantauan media ini dari subuh pasien sudah ratusan ngantri untuk mendapat nomor  berobat.

Tragisnya walau sudah dapat nomor dan menunggu dengan waktu lama,petugas rumah  sakit mengumumkan ” kepada seluruh pasien penyakit jantung quota dokter sudah penuh,silahkan kembali ke loket untuk ambil nomor untuk besok. Pasien yang sudah uzur pun banyak yang ikut antri mulai dari subuh hingga siang hari,sudah menunggu tiga hari “miris nya dari pihak rumah sakit mengumumkan “dokter X tidak bisa praktek” dan dokter Y pasien dibatasi hanya 5 orang ” harap maklum ,sangat sederhana bagi RS tapi bagi pasien…..??? menunggu berhari – hari dengan menahan rasa sakit.BPJS Kesehatan tentu tidak mengetahui bagaimana situasi dan kondisi.

Pelayanan Pasien di Rumah sakit,tidak pula merasakan sakitnya menggunakan fasilitas BPJS,jika sistem pelayanan yang masih kurang manusiawi, apakah tidak perlu ditinjau kembali dan dibenahi sistem  yang masih amburadul, bila perlu BPJS di bubarkan saja.masyarakat sudah membayar/memenuhi kewajiban sebagai peserta BPJS. Bagaimana dengan hak pasien ??? Apakah BPJS merupakan salah satu proyek gagal pemerintah ? mana kinerja menteri pak Joko. “yang sakit makin sakit” “yang  jantung makin jantungan” begitu pasien berkata di sela-sela antrian yang berdesakan waktu subuh,disisi lain seorang dokter penyakit dalam,yang namanya tidak ditulis mengatakan” Bahwa Sitem pelayanan pasien BPJS masih semrawut dan prosedurnya masih membingungkan” (sims)

Related posts:

Leave a Response