|Friday, August 17, 2018

PHAROS SIAPKAN PEMASOK BARU, KONSUMEN HENTIKAN KONSUMSI 

JAKARTA,SK

PHAROSWakil ketua Kadin Komisi Timur Tengah, Ir. Mohamad Bawazeer mengapreasi temuan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI tentang dua produk yang positif mengandung DNA Babi. “Temuan ini sangat baik dan bermanfaat bagi masyarakat muslim. Terutama  yang selama ini mengkonsumsi  dua produk tersebut,” katanya kepada wartawan dan beberapa pengurus besar PII (Pelajar Islam Indonesia) yang sedang beranjangsana di Media Center Al Irsyad, Kramat Raya 23 G-H, Jakarta Pusat, Rabu (31/1).

Dalam laman resminya www.pom.go.id, Biro Hukum dan Hubungan Masyarakat Badan POM RI, Selasa lalu (30/1) menjelaskan viralnya surat dari Balai Besar POM di Mataram kepada Balai POM di Palangka Raya tentang Hasil Pengujian Sampel Uji Rujuk Suplemen Makanan Viostin DS dan Enzyplex tablet. Sampel produk yang tertera dalam surat tersebut adalah Viostin DS produksi PT. Pharos Indonesia dengan nomor izin edar (NIE) POM SD.051523771 nomor bets BN C6K994H, dan Enzyplex tablet produksi PT Medifarma Laboratories dengan NIE DBL7214704016A1 nomor bets 16185101.

 Sebagai konsumen Ensyplex tablet, Mohamad Bawazeer tentu bersyukur atas temuan ini. “Enzyplex tablet itu baik untuk penderita maag.  Lambung  terasa enak enak setelah minum Enzyplex.  Tapi, mulai hari ini saya hentikan,” katanya.

Direktur Standardisasi Produk pangan BPOM, Tetty Sihombing, kepada media menegaskan,  hasil pengujian sampel suplemen Viostin DS dan Enzyplex tablet, mengandung deoxyribose-nucleic acid (DNA) Babi.  Selanjutnya, BPOM RI menginstruksikan PT. Pharos Indonesia dan PT Medifarma Laboratories untuk menghentikan produksi dan/atau distribusi produk dengan nomor bets tersebut. “PT Medifarma Laboratories juga telah menarik seluruh produk Enzyplex tablet dengan NIE dan nomor bets tersebut dari pasaran,” ungkapnya.

Badan POM RI, lanjut Tetty, menginstruksikan Balai Besar/Balai POM di seluruh Indonesia terus memantau dan melakukan penarikan produk yang tidak memenuhi ketentuan, termasuk yang terdeteksi positif (+) mengandung DNA babi, namun tidak mencantumkan peringatan mengandung babi.

Secara rutin, BPOM  melakukan pengawasan terhadap keamanan, khasiat/manfaat, dan mutu produk dengan pengambilan sampel produk beredar, pengujian di laboratorium, serta tindak lanjut hasil pengawasan. “Masyarakat dihimbau untuk tidak resah dengan beredarnya surat ini,” imbau BPOM.

MENYIAPKAN ALTERNATIF

Bagaimana reaksi PT Pharos?  Corporate Communications Director Pharos Indonesia, Ida Nurtika, mengatakan perusahaan secara aktif melakukan penelusuran sumber dugaan kontaminasi terhadap bahan baku yang digunakan untuk pembuatan Viostin DS dan produk jadi. Dimulai dari tempat produksi produk jadi, kualitas bahan baku, tempat penyimpanan bahan baku, produsen bahan baku, dan juga di tempat-tempat lain yang memungkinkan terjadinya kontaminasi.

Pharos Indonesia, lanjut dia, menyiapkan alternatif pemasok bahan baku dari negara lain yang memiliki sertifikat halal. Berdasarkan hasil penelusuran, pihaknya menemukan bahwa salah satu bahan baku pembuatan Viostin DS, yakni chondroitin sulfat, yang didatangkan dari pemasok luar negeri dan digunakan untuk produksi bets tertentu, belakangan diketahui mengandung kontaminan.

 “Kami telah menyiapkan alternatif pemasok bahan baku dari negara lain yang telah bersertifikat halal di negara asalnya dan telah lulus uji Polymerase Chain Reaction,” katanya.

Untuk menjamin kepentingan konsumen, Pharos Indonesia berkomitmen untuk terus menjalin komunikasi dan koordinasi yang baik dengan BPOM dalam menyelesaikan persoalan ini.  (*)PADANG PANJANG 189

Related posts:

Leave a Response