EFEK LIBUR PANJANG TERHADAP PSIKOLOGIS ANAK

oleh
Susiani,SPd.

Oleh : Susiani SPd
Wabah Virus Corona (Covid-19) di Indonesia khususnya di wilayah Sumatera Selatan (Sumsel), membuat pemerintah dalam hal ini Dinas Pendidikan melibur panjangkan para siswa.
Contohnya, di Kota Palembang, Dinas Pendidikan memperjang libur siswa hingga 29 Mei 2020. Berikut di wialyah Kabutapen/Kota di Sumatera Selatan pun menerapkan hal sama.
Disisi lain, mari kita melihat dampak psikologi sang anak adanya libur panjang akibat wabah Corona ini. Seperti dilansir dari berbagai sumber, seorang Psikolog dan Dosen Muda Fakultas Psikologi, Universitas Padjajaran, Bandung, Fredrick Dermawan Purba, mengatakan, secara psikologis pengaruhnya ada pada keteraturan, anak kesulitan penyesuaian, biasanya itu terjadi 2 hari di awal libur dan 2-3 hari di sekolah.

Masalah penyesuaian anak-anak biasanya di rutinitas. Karena libur dua minggu itu kondisi tubuh menurut psikologis butuh waktu untuk menyesuaikan.Oleh karena itu, ada beberapa hal yang harus diperhatikan untuk menghadapinya. Terutama bagi para guru yang memang berurusan langsung dengan anak-anak tersebut.

Di sekolah guru juga sebaiknya menurunkan setengah tingkat tuntutan kepada siswanya. Karena ada penelitian di Amerika, setelah libur anak-anak biasanya motivasinya kurang sehingga IQ-nya turun 10 poin.
Jadi jangan dipaksa, jangan dihukum, tapi lebih baik bertanya tentang liburannya bagaimana, buka-buka buku anak untuk distimulasi otak.

Lantas bagaimana solusinya, orang tua biasanya merencanakan beragam kegiatan hingga kursus untuk mengisi waktu libur panjang sekolah agar anak tidak merasa bosan. Psikolog anak menilai anak-anak sebenarnya boleh dibiarkan merasa bosan tanpa diberondong kegiatan selama libur panjang.
Mengatur tiap kegiatan anak selama libur panjang hanya akan mencegah anak-anak untuk belajar melakukan sesuatu dengan cara mereka sendiri.
Seperti dilansir dari Times of India, imajinasi dan rasa bosan memiliki keterkaitan tersendiri. Sebagai contoh, orang dewasa yang merasa bosan cenderung akan menyibukkan diri dengan kegiatan yang dapat mengusir rasa bosan tersebut. Kegiatan ini dapat berupa membaca buku, memasak atau bahkan sekedar berjalan mengelilingi area perumahan.

Ketika orang tua merencanakan semua kegiatan untuk anak, orang tua sebenarnya mencegah stimuli internal anak untuk berkembang. Padahal stimuli internal ini penting untuk mengembangkan sisi kreativitas anak.
Para ahli menilai bahwa kebosanan merupakan stumuli pertumbuhan yang penting. Kapasitas untuk merasa bosan juga merupakan bagian dari pencapaian pertumbuhan. Kebosanan akan membantu anak untuk bersantai sejenak dan melakukan refleksi.

Alih-alih menyusun semua rencana anak selama libur panjang, orang tua sebaiknya duduk bersama anak dan menentukan apa yang anak mau lakukan dan sukai selama libur panjang. Biarkan anak untuk mengekspresikan diri sebebasnya.

Setiap kali anak mengeluh bosan, orang tua dapat berunding kembali dengan anak mengenai daftar kegiatan yang sudah disusun bersama-sama dan mencari alternatif lain yang lebih menyenangkan.
Rasa bosan tak sepenuhnya buruk. Faktanya, rasa bosan yang dirasakan anak sebenarnya merupakan batu loncatan bagi mereka untuk bisa menjadi mandiri dan bergantung pada diri sendiri.
Intinya, kepekaan orang tua selama sang anak menghadapi libur panjang harus ditingktatkan, bagaimana orang tua dapat mengisi waktu sang anak agar anak tidak bosan di rumah. (HS)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *