Wajah Buram Kampanye Program

oleh
Kolom Pakar Wajah Buram Kampanye Program

Indikator program

Di ranah akademik, salah satu model kampanye yang kerap dipakai sebagai acuan kampanye rasional ialah model Ostergaard. Dalam pandangan Leon Ostergaard, sebagaimana dikutip Hans-Dieter Klingemann, Public Information Campaigns and Opinion Research (2002), paling tidak ada tiga tahapan dalam kampanye berbasis program. Pertama, identifikasi masalah faktual yang dirasakan. Syarat kampanye, harus berorientasi pada isu/program (issues/program-oriented), bukan semata berorientasi pada citra (image-oriented).

Kampanye merupakan momentum tepat untuk menunjukkan bahwa kandidat memahami benar berbagai persoalan nyata, faktual, elementer, dan membutuhkan penanganan prioritas di masyarakat. Sudah tidak saatnya lagi kampanye hanya menawarkan solusi imajiner yang abstrak, tidak memiliki basis pemecahan masalah yang konkret.

Kedua, pengelolaan kampanye harus dimulai dengan perancangan, pelaksanaan, hingga evaluasi. Riset perlu dilakukan untuk mengidentifikasi karakteristik khalayak sasaran agar dapat merumuskan pesan, aktor kampanye, saluran, hingga teknis pelaksanaaan kampanye yang sesuai. Pada tahap pengolahan ini, seluruh isi program kampanye diarahkan untuk membekali dan memengaruhi aspek pengetahuan, sikap, serta keterampilan khalayak sasaran.

Ketiga, tahap evaluasi untuk penanggulangan masalah (reduced problem). Dalam hal ini, evaluasi diarahkan pada efektivitas kampanye untuk menghilangkan atau mengurangi masalah sebagaimana telah diidentifikasi pada tahap prakampanye.

Ketiga aspek ini, dalam literatur ilmiah dipercaya menjadi prasyarat terjadinya perubahan perilaku (voting behavior). Kampanye tak cukup hanya bertumpu pada retorika sloganistik. Pemilih harus diajak turut serta untuk mengonsolidasikan demokrasi di Indonesia. Tak lagi cukup hanya mendengarkan slogan, tetapi juga butuh indikator-indikator yang bisa diraba sekaligus diadu pada level gagasan dan program. Kampanye harus diterjemahkan dari tema besar yang serba elitis ke indikator nyata (real world indicators).

Kampanye dengan demikian, bukanlah sebuah mekanisme janji palsu atau pembohongan publik, melainkan sebuah deklarasi komitmen untuk melakukan hal-hal terbaik yang bisa dilakukan. Sekaligus meyakinkan berbagai pihak bahwa para kandidat memiliki berbagai solusi jangka pendek, menengah, dan panjang sebagai formula mengurangi masalah yang ada di masyarakat. Saat pasangan capres dan cawapres mampu menunjukkan platform dan solusi berbagai persoalan negeri ini, bukan tidak mungkin akan muncul dukungan pemilih yang meluas.

Sumber: Mediaindonesia.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *