Jepara Memanas Aksi Demontrasi Ormas FKOJ “Save Jepara Jilid 2” Berakhir Duka.

Jepara,SK.

Aksi demo kembali digelar oleh Forum Komunikasi Ormas Jepara (FKOJ) , “Save Jepara Jilid 2,” berlangsung dengan suasana yang  menegangkan di Jepara ,(30/8/2023).Mayoritas para demonstran merupakan anggota dari berbagai organisasi masyarakat (ormas) diantaranya ,Pemuda Pancasila , GMBI, PEKAT IB, Grib Jaya dan aktivis lingkungan ini, kembali menyerukan dan meminta turunnya Sekretaris Daerah (Sekda)  pemerintahan Jepara .

Pantauan awal dari lokasi aksi demo menunjukkan ribuan massa yang berkumpul di Alon – Alon  Jepara bergerak menuju depan Kantor Sekretaris Daerah Jepara sejak pagi hari.

Mereka membawa spanduk, poster, dan menyampaikan yel-yel yang menuntut perubahan kebijakan terkait penurunan Sekretaris Daerah dari pemerintahan Kabupaten Jepara.

Tuntutan utama aksi ini adalah pengunduran diri Sekretaris daerah , pengisian kekosongan jabatan dipemerintahan yang menurut para demonstran, dianggap terlibat dalam kebijakan-kebijakan yang merugikan masyarakat Jepara. Mereka mendesak agar Sekretaris Daerah Kabupaten Jepara segera turun dari jabatan nya.

Namun, suasana menjadi tegang dan  mencekam ketika terjadi bentrokan antara sejumlah demonstran dengan aparat keamanan , saat para demonstran  berusaha untuk masuk ke dalam kantor Sekretariat daerah Kabupaten Jepara.Aksi demo berakhir duka dan kesedihan yang mendalam dengan meninggalnya seorang anggota ormas Grib Jepara saat demo berlangsung. Tiba – tiba salah satu peserta demonstran  meninggal, yaitu seorang pengurus Grib Jaya , OKK DPC Grib Jaya.

Korban telah diidentifikasi bernama Kiswanto, warga desa Cepogo RT 03, RW 04 , kecamatan Kembang, Kabupaten Jepara diduga meninggal karena terkena serangan jantung.

Hal itu dibenarkan Pj Bupati Edy Supriyanta, saat menerima perwakilan dari FKOJ di Ruang Rapat R.M.P. Sosrokartono. “Iya, tadi memang ada pengunjuk rasa yang meninggal. Namanya Kiswanto, alamat Cepogo, Kecamatan Kembang. Sudah dibawa ke UGD Rumah Sakit Graha Husada. Dan dokter menyatakan meninggalnya karena penyakit jantung. Jadi bukan karena ada apa-apa saat unjuk rasa ” . Ini kami semua akan ke sana,” kata Edy Supriyanta.

Meski pertemuan telah berakhir, tetapi  menganggap  semua persoalan belum selesai. Demo terpaksa diakhiri karena salah satu demonstran meninggal dunia. Dengan adanya korban meninggal maka tentunya menimbulkan persoalan baru terutama bagi keluarga yang ditinggal.Siapa yang bertanggung jawab atas peristiwa yang terjadi ?

Seyogyanya segala persoalan di Jepara bisa diselesaikan dengan bertemu , bermusyawarah , untuk  mencapai mufakat demi kepentingan kemajuan Kabupaten Jepara sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia dan sila ke-4 Pancasila. Sehingga menciptakan kondisi Jepara tetap  damai, aman dan kondusif sehingga aktivitas pemerintahan dan masyarakat pada umumnya dapat berjalan dengan sebaik – baiknya.(BS)

 

Tinggalkan Balasan