Prof. Rhenald Kasali, Ingatkan Pemerintah Jangan Sampai Situasi 1998 Terulang

0
370

Kota Bekasi, SK 

Keresahan masyarakat, terhadap kondisi sosial dan ekonomi di Indonesia semakin mencuat. Kali ini, peringatan keras dan kritik tajam kepada pemerintah terkait kondisi sosial-ekonomi yang kian membebani masyarakat justru datang dari Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (UI), Prof. Rhenald Kasali, Ph.D.

Melalui video yang di unggah pada akun Instagram pribadinya sekitar 19 jam yang lalu, Prof. Rhenald menyuarakan keprihatinan mendalam, sekaligus mengingatkan agar para pemegang kekuasaan tidak hanya meredam gejolak di permukaan saja.

Namun, dapat dengan serius menyelesaikan masalah dari akarnya, “Harga naik, pajak mencekik, sementara pejabat masih bicara sembarangan. Masalah yang mestinya diselesaikan di akar justru terus disapu ke bawah, hingga akhirnya menumpuk dan berubah menjadi eskalasi yang membuat rakyat makin susah. Pertanyaannya sederhana: siapa yang berani benar-benar bertanggung jawab?” tulis Prof. Rhenald dalam caption video yang di lihat wartawan media ini, Sabtu (30/8/2025).

Dalam pernyataannya, Prof. Rhenald menggambarkan keresahan masyarakat yang semakin tertekan akibat berbagai kebijakan.

Dirinya menyoroti kenaikan harga kebutuhan pokok, pajak yang terus meningkat, hingga pernyataan kontroversial sejumlah pejabat yang dinilai tidak memahami persoalan di lapangan, “Jakarta tengah bersedih, Indonesia sedang bersedih. Ini mewakili perasaan banyak orang, dan rasa sedih saya tidak terbatas pada apa yang saya lihat di sosial media,” kata Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI ini mengawali pernyataannya.

Dalam rekaman video berdurasi beberapa menit, di hari yang sama Prof. Rhenald sempat mengaku sengaja menelusuri jalanan Ibu Kota. Ia menyaksikan, sejumlah ruas jalan kosong, hingga ditutup oleh aparat keamanan dengan alasan antisipasi demonstrasi besar.

Menurutnya fenomena tersebut, menjadi simbol bagaimana pemerintah lebih sibuk memadamkan api di permukaan, ketimbang berani mengurai akar persoalan, “Mereka takut didemo besar, tapi kenapa hanya takut, kenapa hanya ingin memadamkan gerakan demonstrasi..? Persoalannya ada di akar, jangan menuju ke atas dulu. Di akar itu kalau persoalan tidak diselesaikan, akan ter-eskalasi. Sadar nggak sih kalian, bahwa ini sudah jadi masalah,” paparnya.

Masalahnya, lebih lanjut Prof. Rhenald menambahkan, “Pejabatnya ngomong sembarangan; soal tanah mau disita, soal uang tabungan kemudian dibekukan di rekening. Lalu katanya beras itu surplus di Indonesia, tapi harga beras naik,” imbuhnya. Berdasarkan keterangan Prof. Rhenald, perkembangan situasi saat ini mirip dengan peristiwa tahun 1998, “Situasi tahun ’98’ itu seperti itu; harga beras naik, pengangguran marak, lalu kemudian gak lama lagi itu mata uang terjadi pergeseran, dan masyarakat semakin menderita,” terangnya.

Prof. Rhenald juga menyinggung kebijakan pajak yang dinilai membebani rakyat kecil, termasuk pelaku bisnis dalam jaringan (Daring), petani, hingga wacana royalti suara burung. Tak berhenti di sana, Prof. Rhenald turut menyoroti kesenjangan tajam antara elite politik dengan rakyat. Baginya, hal ini justru menambah luka di tengah-tengah kesulitan masyarakat.

Lebih jauh, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI itu menilai; pejabat serta politisinya di DPR kerap mempertontonkan gaya hidup mewah, drama politik, fasilitas dan uang yang bisa dengan mudahnya didapatkan.

Sementara guru, dosen, hingga petani malah hidup dalam tekanan pajak. Belum lagi, soal meninggalnya seorang driver ojek online (Ojol) baru-baru ini. Dirinya menggambarkan driver Ojol itu adalah masyarakat biasa, dan insiden tersebut menyimpan satu kedukaan besar bagi keluarga hingga kita semua. Jika sudah seperti itu, Prof. Rhenald menegaskan, permintaan maaf tidak cukup untuk menutup luka yang telah terjadi, “Kalau persoalan ini tidak diselesaikan di akar, maka terjadi apa yang disebut sebagai problem escalation. Eskalasi masalah yang naik terus sampai ke puncaknya, lalu membuat kita semua jadi susah,” tegasnya.

Mengakhiri pesannya, Prof. Rhenald mengajak para pemimpin untuk berani bertanggung jawab dan berhenti menyalahkan pihak bawah, “Harus ada pejabat di atas yang bertanggung jawab, harus ada orang yang di copot,” ungkapnya. Ayo dong bertanggung jawab, sambung Prof. Rhenald, “Jangan selalu menyalahkan orang-orang yang di bawah. Kalau kita tidak bisa selesaikan masalah di akarnya, ini akan merambat luas dan membuat kita susah. Saya hanya mewakili rasa sedih dan rasa sakit yang dialami oleh banyak orang di sekitar saya,” pungkasnya.

Seruan Prof. Rhenald Kasali itu menjadi perhatian publik, dan refleksi penting di tengah dinamika sosial-ekonomi nasional, serta arah kebijakan dari pemerintah. Suara akademisi, dan juga pakar manajemen ini sekaligus menegaskan keresahan banyak warga: bahwa pemerintah perlu segera berbenah, berkaca, hadir, dan bertindak nyata sebelum situasi benar-benar mencapai puncak krisis. (Andrew) 

 

 

Redaksi
Author: Redaksi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini