KOTA TASIKMALAYA,SK


Priangan Bamboo Fest 2026 tidak hanya sekadar pesta pameran kerajinan dan kuliner. Event yang digelar bertepatan dengan Hari Jadi ke-25 Kota Tasikmalaya ini diproyeksikan menjadi pintu masuk produk lokal menembus pasar ekspor.
Festival tersebut diharapkan menjadi pengungkit ekonomi kreatif sekaligus memperkuat implementasi program Tasik Pelak (Tasik Peduli Kelompok Usaha Kecil).
Wali Kota Tasikmalaya, Viman Alfarizi Ramadhan, menegaskan bahwa Priangan Bamboo Fest adalah ruang kolaborasi nyata antara pengusaha, pemerintah, asosiasi, dan komunitas untuk membangun ekosistem usaha yang kuat di kawasan Priangan Timur. Menurut Viman, bambu memiliki potensi besar untuk menjadi identitas utama produk kriya Kota Tasikmalaya. Selama ini, Tasikmalaya dikenal sebagai kota kriya, dan bambu harus menjadi ciri khas yang menguatkan city branding.
“Bambu itu identik dengan kriyanya Kota Tasikmalaya. Ke depan, bambu harus jadi kekhasan Kota Tasikmalaya, kita harus punya brand yang kuat,” ujar Viman.
Ia berharap festival ini menjadi titik lompat bagi para perajin untuk naik kelas. Dari yang semula hanya perajin, bisa berkembang menjadi pemasok, bahkan eksportir. Skala usaha yang meningkat diyakini akan berdampak langsung pada peningkatan pendapatan masyarakat dan terbukanya lapangan kerja baru.
Viman juga menyoroti nilai ekonomi bambu yang sangat menjanjikan. Salah satunya bambu laminasi yang harga jualnya bisa mencapai Rp18 juta per meter kubik, tergantung pada jenis dan spesifikasi produknya.
Ketua Pelaksana Priangan Bamboo Fest 2026, H. Abun Benyamin, mengungkapkan pihaknya menyiapkan sekitar 100 stan yang terdiri dari 60 stan kriya dan kerajinan serta 40 stan kuliner. Peserta tidak hanya datang dari Tasikmalaya, tetapi juga dari berbagai daerah seperti Sukabumi, Sumedang, dan Cirebon.Ia menyebut, sejumlah anggota asosiasinya bahkan sudah berhasil mengekspor produk art craft ke pasar Eropa dan Amerika. Hal ini menjadi bukti bahwa produk kerajinan lokal memiliki peluang besar untuk bersaing di pasar global.
Namun, menurutnya, untuk bisa ekspor secara berkelanjutan, ada beberapa pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Mulai dari kapasitas produksi yang memadai, kualitas produk yang konsisten, desain yang kompetitif, hingga jaringan pemasaran yang berkelanjutan.
Senada dengan itu, Kepala Dinas KUKM Perindag Kota Tasikmalaya, Sofyan Jaenal Muttaqien, bersyukur di tengah keterbatasan anggaran, Pemkot Tasikmalaya masih bisa memperkuat kolaborasi dengan berbagai stakeholder sehingga kegiatan sebesar ini bisa terlaksana.
Ia menambahkan, penguatan industri bambu juga membuka peluang sinergi dengan Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Barat untuk mendata potensi lahan penanaman bambu. Kelurahan Sukajaya dan Sukaraja disebut memiliki potensi lahan hingga puluhan hektare yang bisa dikaji untuk mendukung ketersediaan bahan baku secara berkelanjutan.
Menurut Sofyan, keberhasilan Priangan Bamboo Fest 2026 tidak bisa diukur hanya dari ramainya pengunjung atau banyaknya stan. Lebih dari itu, festival ini harus mampu membuka akses pasar baru, meningkatkan omzet pelaku usaha, menciptakan kemitraan bisnis, menyerap tenaga kerja, dan membuka peluang ekspor.
Dengan penguatan bahan baku, kualitas produk, dan pemasaran yang berkelanjutan, bambu berpeluang menjadi sumber nilai tambah ekonomi sekaligus menjadi identitas industri kriya Kota Tasikmalaya di mata dunia.Ujarnya.(Ari Yanto)










