BANYUMAS SK

Tradisi Nyadran adalah warisan budaya Jawa yang masih sangat kental dan dijaga kelestariannya. Ritual ini bukan sekadar ziarah, melainkan simbol harmoni antara manusia, leluhur, dan Tuhan, serta menjadi cermin toleransi tinggi.
Sadranan Para Tedak Turun eyang Sultan Sepuh HB II
Yang di Motori oleh beliau Mas Indro Susilo Putro dan Mas Heru Sumaryo selaku Pengurus Pasederekan Trah HB II pada Hari SabtuTanggal 7 Februari 2026 di Pemakaman Kota Gede Djogjakarta.
Pengurus berharap agar Pasederekan Trah HB II semakin berkembang dan “guyub” dan semakin mengenal para leluhurnya serta mencintai TRADISI SENI & BUDAYA JAWA terutama peninggalan eyang HB II.
Pembacaan Tahlil Qubro dan Doa bersama, untuk memohon ampunan kepada Sang pencipta karsa (Gusti Allah ) untuk para semua Leluhur yang telah tiada. Sebagai bentuk wujud bakti unggah ungguh sopan santun kepada Leluhur kita (birulwalidain)
Setelah selesai pembacaan Tahlil Qubro dan Doa bersama di Area Bale Agung dilanjutkan tradisi “Kembul Bujana” (Makan Bersama): Inilah puncaknya, duduk lesehan dan makan bersama dari bekal tumpeng yang dibawa.
Nyadran adalah Salah satu keunikan yang lebih kenal sebagai tradisi yang punya nilai toleransi tinggi oleh Masyarakat Jawa, karena diikuti oleh lintas agama (tidak hanya umat Muslim). untuk menghormati Leluhur keluarga dan menjaga kerukunan antar sesama dan semua .
Menurut mas R Indro Susilo selaku Ketua Pasederekan Trah HB II pada tradisi Nyadran tahun ini diikuti sekitar 90 peserta yang datang dari berabagai anggota Pasederekan Trah HB II dari Malang, Pasuruhan, Surabaya, Semarang, Banyumas, Bandung, Jakarta, Tangerang dan DIY.Tujuan acara Nyadran adalah untuk kirim doa, kirim sesaji, tabur bunga, bakar kemenyan dan dupa untuk para leluhur Trah HB II yang bersemayam di pemakaman Raja raja Mataram di Kota Gede antara lain: Nyi
Ageng Nis, Ki Ageng Pemanahan, Nyi Ageng Pemanahan, Panembahan Senopati, Ki Juru Mertani, Ratu Waskita Jawi, RAy Retno Dumilah, Prabu Hadi Hanyokrowati, Hamengku Buwono II semua leluhur tersebut adalah pancer yang menurunkan Trah Hamengku Buwono II, selain beliau yang bersenayam di makam kota Gede juga mendoakan leluhur yang bersemayam di Laweyan (Ki Ageng Nis), leluhur yang bersemayam di Imogiri antara lain Sultan Agung, Paku Buwono I, Amangkurat Jawi dan Hamengku Buwono I. Juga para leluhur yang di Nitikan Ratu Mas Balitar yang juga eyang buyut HB II, Amangkurat Agung di Tegal dan eyang Ratu Labuan garwa permaisuri Amangkurat Agung yang bersemayam di Pleret Bantul
Menurut Ki Suho peserta dari Banyumas yang juga ketua Yayasan sanggar Kamulyan Sinduredja Banyumas bahwa tradisi Nyadran adalah warisan budaya Jawa yang masih sangat kental dan dijaga kelestariannya. Ritual ini bukan sekadar ziarah, melainkan simbol harmoni antara manusia, leluhur, dan Tuhan, serta menjadi cermin toleransi tinggi.
Pada Nyadran tahun ini pembacaan Tahlil Qubro dan Doa bersama dipimpin oleh mas Dwi Priyono yang juga abdi dalem Pengulon untuk memohon ampunan kepada Sang pencipta karsa (Gusti Allah ) untuk para semua Leluhur yang telah tiada. Sebagai bentuk wujud bakti unggah ungguh sopan santun kepada Leluhur kita (birulwalidain)
Setelah selesai pembacaan Tahlil Qubro dan Doa bersama di Area Bale Agung dilanjutkan tradisi “Kembul Bujana” (Makan Bersama) Tumpeng dan ketan kolak apem.
“Memayu hayuning Bawono”Rahayu Kamulyaning Jagad .Rahayu Jiwa-jiwa Sing Indah Rahayu Sagung Dumadi
Sumber SUHO sebagai
– Ketua Yayasan Sanggar KAMULYAN Sinduredja
– Jejaring Indonesia Creative Cities Network (ICCN)
– Ketua 1 Korda Banyumas Raya & Divisi Pegiat Desa Komite Ekonomi Kreatif Jateng
– Ketua Bidang Kebudayaan Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (DPD LPM Provinsi Jateng)
– Ketua DPD Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Kabupaten Banyumas . ( H SBR PANI )










