Tasikmalaya,SK

Dalam Kegiatan Suasana berbeda tampak di Lapangan Mega Mutiara Tasik Regency, Kelurahan Cibunigeulis, Kecamatan Bungursari, Kota Tasikmalaya, Minggu (27/09/2026). Puluhan pemanah tradisional dengan busur di tangan tampak fokus membidik sasaran dalam gelaran Pasanggiri Jamparingan.


Lomba panahan tradisional ini diikuti sebanyak 80 peserta yang tidak hanya berasal dari Kota Tasikmalaya, tetapi juga dari berbagai wilayah di Indonesia. Mulai dari Banten, Garut, Cirebon, Yogyakarta, Gunung Kidul, hingga Tawangmangu. Kehadiran mereka menjadikan ajang ini bukan sekadar kompetisi, tetapi juga sebagai wadah silaturahmi antar pecinta panahan tradisional.
Ketua Persatuan Panahan Tradisional Indonesia (Perpatri) Kota Tasikmalaya, Syahriar Fahrudin, mengatakan bahwa Pasanggiri Jamparingan tahun ini merupakan gelaran yang kedua kalinya. Sebelumnya, event serupa sukses digelar di halaman Bale Kota Tasikmalaya.
“Pasanggiri ini digelar untuk kedua kalinya, dimana Jamparingan pertama digelar di halaman Balekota. Tahun ini diikuti 80 peserta dari Tasikmalaya, Banten, Garut, Yogyakarta, Gunung Kidul, Tawang Mangu, Cirebon, dan wilayah lainnya, sebagai ajang silaturahmi,” ujar Syahriar.
Menurutnya, olahraga panahan tradisional Jamparingan memang belum begitu populer di kalangan masyarakat luas, khususnya di Kota Tasikmalaya. Namun pihaknya terus berupaya mengenalkan olahraga ini, terutama kepada generasi muda. Saat ini, Perpatri Kota Tasikmalaya juga telah bergabung dengan Komite Olahraga Masyarakat Indonesia (KORMI).
Syahriar menegaskan, panahan bukan sekadar olahraga fisik. Lebih dari itu, Jamparingan merupakan salah satu warisan budaya leluhur yang harus dilestarikan. Selain melatih ketangkasan, panahan juga melatih konsentrasi, kesabaran, dan fokus.
“Panahan merupakan salah satu budaya leluhur yang harus dilestarikan. Selain olahraga, panahan juga untuk melatih konsentrasi,” jelasnya.
Ia pun memiliki keinginan untuk menggelar event dengan skala yang lebih besar lagi di tahun-tahun mendatang. Namun ia mengakui adanya keterbatasan anggaran menjadi tantangan utama. Untuk itu, ia berharap ada dukungan dari berbagai pihak, baik pemerintah maupun swasta, agar kegiatan serupa dapat terus berkembang dan menjadi agenda rutin.
Sementara itu, Wakil Wali Kota Tasikmalaya, Rd. Diky Candra Negara, yang hadir dalam kegiatan tersebut menyambut baik dan mengapresiasi konsistensi jajaran Perpatri dalam melestarikan budaya leluhur.
Ia menyampaikan permohonan maaf karena sempat terlambat hadir mengingat padatnya agenda kegiatan di akhir pekan.
Namun ia menegaskan komitmen Pemerintah Kota Tasikmalaya untuk mendukung kegiatan-kegiatan pelestarian budaya seperti ini.
“Kami sangat mengapresiasi Perpatri yang telah konsisten melestarikan salah satu budaya leluhur. Kami siap mendukung kegiatan-kegiatan berikutnya,” ujar Diky.
Menurut Diky, kehadiran puluhan peserta dari luar kota tidak hanya berdampak pada pelestarian budaya, tetapi juga memberikan kontribusi nyata bagi pertumbuhan ekonomi lokal dan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Tasikmalaya. Pasalnya, para peserta turut menginap, berbelanja, dan menikmati kuliner khas Tasikmalaya selama mengikuti perlombaan.
Dengan suksesnya gelaran kedua ini, Pasanggiri Jamparingan diharapkan dapat menjadi ikon wisata budaya dan sport tourism baru di Kota Tasikmalaya.*(Ari Yanto)










