H.Ferdiansyah, Apresiasi Festival Pamali 2026 Hidupkan Kembali Nasihat Leluhur Sunda

0
44

Tasikmalaya,SK

Dalam kegiatan di Gedung Kesenian Kota Tasikmalaya seolah berubah menjadi mesin waktu, Sabtu,(1/7/2026). Saat Festival Pamali 2026 digelar, suasana masa lalu terasa begitu kuat. Di setiap sudut ruangan dipajang  tulisan- tulisan  bernada  larangan khas Sunda“Pamali”,mengajak pengunjung mengingat kembali pesan-pesan orang tua yang dulu sering kita dengar.

Hadir dalam kegiatan tersebut,Anggota DPR RI Fraksi Golkar, H.Ferdiansyah,S.E, M.M, Wakil Walikota Tasikmalaya, Rd.Diky Candranegara, Kadisporabudpar Kota Tasikmalaya, Dr.Deddy Mulyana, para pegiat budaya, dan undangan lainnya.

Festival ini menyuguhkan beragam kesenian tradisional. Ada pertunjukan Ambu Midang dengan tarian Payung Geulis, orasi budaya, tarian daerah, atraksi pencak silat, seni lengser, teater, hingga musik jaipong. Penampilan anak-anak Kota Tasik dalam seni lengser bahkan mendapat sorakan kagum dari penonton.

Sesepuh Ngaos Art Foundation, Dwi Febriana, mengatakan festival ini bertujuan menghidupkan kembali makna “pamali” yang kini mulai jarang diucapkan.

“Dulu kita sering dengar ‘pamali calik di lawang panto’, ‘pamali nyapu peuting’. Itu bukan sekadar larangan atau hal mistis. Di balik itu ada pesan moral, etika, dan kearifan lokal orang Sunda,” jelas Dwi.

Menurutnya, budaya adalah napas kehidupan. “Lewat festival ini kami ingin anak muda tahu, pamali itu bentuk pendidikan karakter. Isinya tentang menjaga sopan santun, menjaga alam, dan menjaga diri,” tegasnya.

Ia berharap setelah acara ini, kata pamali tidak berhenti jadi kenangan. “Kami ingin pamali kembali hidup di rumah-rumah, jadi pengingat orang tua ke anak-anaknya,” ujarnya.

Wakil Wali Kota Tasikmalaya Rd. Diky Candranegara yang hadir membuka acara mengaku bangga. Ia mengapresiasi inisiatif Ferdiansyah dan tim Ngaos Art Foundation.

“Saya terpukau. Tarian Ambu Midang, seni lengser anak-anak, ini bukan kaleng-kaleng, tapi berkelas dan membanggakan,” puji Diky.

Ia juga mencicipi jajanan tradisional yang dijajakan di area acara. “Enak juga kalau sebulan sekali kita bikin acara outdoor seperti ini, sambil nikmati kuliner sambil lihat kesenian,” katanya.

Diky bahkan mewacanakan menjadikan eks Terminal Cilembang sebagai ruang pertunjukan seni terbuka agar para pegiat budaya punya wadah berekspresi.

Sementara itu, Anggota DPR RI H. Ferdiansyah, S.E., M.E., mengatakan bahwa Festival Pamali 2026 ini sebagai salah satu upaya mengingatkan kembali nilai -nilai budaya Sunda yang memiliki makna dan mengajarkan tatakrama dalam kehidupan sehari-hari,salah satunya tentang kesehatan,contohnya tidak boleh makan sambil berdiri, dan masih banyak lagi pepatah lainnya.

Ia menegaskan pamali harus dipahami sebagai pedoman hidup, bukan hal yang menakutkan.”Makna pamali itu luas. Ini tentang etika, perilaku, dan cara kita menghargai sesama serta alam. Jangan dikaitkan dengan mistis,” katanya.

Ferdiansyah berharap kegiatan budaya seperti ini terus digaungkan secara berkelanjutan. “Agar nilai-nilai luhur tidak punah, terutama di kalangan anak muda,” pungkasnya.(Ari Yanto)

 

Redaksi
Author: Redaksi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini